Pintu

0
499
Alt
Rini Widya Sumardi Seorang perempuan yang lahir di bulan September Menyukai memasak, bertanam, dan suara hujan

Oleh : Rini Widya Sumardi

       Tentang kepulanganmu

Alt

Belum malam benar ketika pintu kamarku diketuknya. Sebuah ketukan yang terdengar sangat ragu-ragu. Aku sudah lama menunggu. Sejak pukul 3 sore tadi kuputuskan duduk di belakang pintu. Menunggunya sembari membongkar isi dadaku. Apa ini sudah benar?  Berkali-kali kutepuk pipiku sendiri untuk memastikan keputusanku sudah memenuhi apa yang aku butuhkan atau belum. Ini terasa lama sekali. Pada jam 3 sore yang tak kunjung malam, aku menghabiskannya untuk belajar beramah tamah. Ku taruh amarah itu di tempat yang sangat dingin. Sangat dingin dan jauh.

Menunggu adalah pekerjaan terberat dalam hidup. Namun, sebagian besar waktuku telah kuhabiskan untuk menunggu. Jarak pintu diketuk dengan keraguan-keraguan ternyata begitu jauh. Gagang pintu terasa lebih berat ketika aku ingin memutarnya. Ayolah, kali ini hanya sebuah pintu saja. Sebuah pintu yang menjadi pemisah antara kangen dan lonjakan amarah yang keluar masuk ke dalam dada.  Sama sekali tak jauh. Sama sekali tak jauh. Begitu dekat, namun masih terlalu lama untuk direngkuh.

Ku buka begitu saja pintu itu. Ia masuk. Menatapku sebentar. Sebentar saja tak seperti dahulu. Tatapan serupa yang selalu membuatku salah tingkah meski sudah bertahun-tahun hidup bersamanya.  Mata yang selalu ku rindukan dari pagi ketika ia berangkat bekerja. Menahan dada yang hampir pecah saban malamnya. Saban malam lagi, aku tak ingin jauh-jauh dari dekat pintu sebelum ia mengetuknya. Selalu seperti itu, seolah-olah aku adalah pintu itu sendiri. Pintu yang menunggu untuk diketuk lagi, dan lagi. Maka setelah kemelut itu menghantam kami. Semua menjadi begitu gelap. Tapi aku masih menunggu hingga bertahun-tahun lamanya.

“Kamu pulang jam berapa…”

Pesan pendek yang  saban hari ku kirim di nomor yang sama tak kunjung membuat pintu itu diketuknya.

***

Ku buka begitu saja pintu itu. Ia masuk. Menatapku sebentar. Sebentar saja, dan aku tak memiliki keberanian untuk mencari jawaban di sana. Saat ini, tak ada yang bisa aku lakukan, kecuali menunggu. Di ruang gelapnya barangkali tengah dikepung sebuah pesta. Entah apa yang sedang ia rayakan. Matanya di buang pada gordin biru gelap.  Tak ada apa-apa, hanya gordin biru gelap dan kekosongan. Ruangan ini begitu kecil, namun terasa sangat luas dan berjarak. Kami duduk di ranjang yang sama, tak saling sentuh, tak saling bicara, bahkan tak saling bertatap mata. Kekosongan macam apa ini? Isi dada sudah berloncatan, namun selalu gagal dibahasakan. Gordin biru gelap lebih menarik, juga televisi yang tidak menyala, juga ubin dingin di bawah sana.

“Aku boleh numpang mandi dulu? Aku bau banget…” Begitu kekosongan itu mulai sedikit pecah. Aku hampir terkekek mendengar suara yang pelan dan penuh keragu-raguan ketika ia mengucapkan. Aku cuma menatapnya. Tatapan yang belum tuntas, bahkan tidak pernah tuntas.

“Aku boleh pakai sikat gigimu?”, “Aku boleh pakai handuknya?”, “Ini sabun untuk muka?”

Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab ketika aku mengambil alih posisinya. Di tempatnya duduk tadi: diam, menatap gordin biru gelap. Apa yang ku cari tidak ku temukan di sana. Semuanya tetap pada tempatnya, tak terpecahkan.  Benar saja sangat mustahil kita mampu menyelami pikiran seseorang dari objek yang pernah mengisi pikiran bawah sadarnya.  Objek tidak memantulkan bayangan-bayangan yang dapat dikenali seperti cara kerja sebuah cermin. Pun, mustahil benar-benar mampu mengenali seseorang seutuhnya, bahkan seseorang yang pernah hidup bersama bertahun-tahun lamanya. Lamanya waktu yang dijalani bersama, tidak dapat menjamin apa-apa. Ibuku yang menikahi Ayahku selama puluhan tahun saja masih tidak bisa megerti satu sama lain. Apalagi kami?

Ayolah, yang tersisa di sini hanyalah ia dan aku. Ia yang sedari tadi sibuk menanyakan tetek-bengek perihal mandi, baru saja keluar dari kotak basah dengan membawa senyum kecil. Ia menatapku lama sekali, tatapan itu berangsur dekat. Pertama, ia betulkan rambutku. Kemudian ia ulang-ulang mengusap kepalaku. Matanya memerah. Aku tak lagi mencari jawaban di sana. Di sana, pada ruang gelapnya yang dikepung sebuah pesta.

“Kata Ibu, ternyata aku lahir di hari selasa…” Suaranya pelan sekali di dekat sini. Pelukannya semakin hangat. Ada api kecil yang menyala di antara kami. Pintunya sudah ku tutup kembali. Ia sudah di dalam. Pulang pada aku  yang disebutnya rumah.****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here