Menjadi Pembaca, Pembelajar, dan Pemimpin

0
665

Gema Mitra | Kota Tasik 

CNN Indonesia – “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru.” Kalimat yang memiliki makna mengenai hidup yang harus terus belajar, di mana pun, kapan pun, dengan siapa pun. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah (Q.S. Annisa; 28) dan juga bodoh (Q.S al-Ahzab : 72). Tapi di samping itu manusia juga diberi karunia akal untuk dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Itulah kalimat bijak dari seorang guru yang sekaligus aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Beliau adalah Ki Hadjar Dewantara, tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menjadi guru bagi banyak tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Bagian dari semboyan ciptaannya, Tut Wuri Handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Slogan tersebut merupakan salah satu dari 3 slogan ciptaannya yaitu;
“Tut Wuri Handayani – Ing Ngarso Sun Tulodo – Ing Madyo Mangun Karso”

Yang berarti: “Di depan memberi teladan atau contoh yang baik, di tengah menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang memberikan dorongan dan arahan.”

Alt
SEMBOYAN KI HAJAR DEWANTARA YANG MENJADI PUSAKA PERJUANGANNYA

Meski kalimatnya sederhana, tiga slogan di atas memiliki makna yang mendalam mengenai pemimpin dan pembelajar (Leader and Learner). Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab dalam memberikan tugas dan arahan, melainkan pemimpin juga harus bisa menjadi teladan yang baik bagi yang dipimpinnya, ia juga harus bisa berbaur dengan anggotanya serta menciptakan inovasi-inovasi bagi lingkungannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here