Iis Suhartini, S.Pd: Kepala Sekolah SD Negeri Bantargedang Menumbuhkan Pendidikan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan

0
830
Kepala Sekolah SDN Bantargedang Iis Suhartini, S.Pd sedang memberikan pengarahan pendidikan karakter melalui permainan dihadapan peserta didik
Gema Mitra – Kota Tasik
Pendidikan karakter merupakan pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, diharapkan seoarang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Atas dasar itu, SD Negeri Bantargedang yang berada di Jalan Bantargedang Nomor 26 Kecamatan Cibeureum UPT Dinas Pendidikan Wilayah Timur, saat ini sedang gencar menanamkan pendidikan karakter di sekolahnya.
“Hal itu dimulai dari pembiasaan yang paling kecil yaitu nilai sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2). Adapun pembiasaan yang rutin dilaksanakan diantaranya, pemeriksaan kerapihan pakaian, rambut, kultum tentang pemahaman karakter, mengaji, literasi, kegiatan kepramukaan dan kegiatan yang lainnya”, papar Kepala Sekolah SD Negeri Bantargedang Iis Suhartini, S.Pd kepada Gema Mitra, Selasa pekan kemarin.
Dia menjelaskan bahwa terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
“Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi mesin yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan”, jelas Iis
Lebih lanjut dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
“Untuk itu, kami berusaha ingin memberikan yang terbaik guna mencetak siswa-siswi yang berkarakter dan berakhlakul karimah melalui pembiasaan-pembiasaan yang menarik supaya peserta didik nyaman, aman dan menyenangkan ketika belajar di sekolah”, pungkas Kepala Sekolah yang sukses menghantarkan SD Negeri Bantargedang menjadi Sekolah Adiwiyata ke tingkat Nasional ini. (Tatang RA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here